Gedung TVRI Surabaya, dibangun pada tahun 1978, 16 tahun setelah TVRI pertama diluncurkan. TVRI yang pertama berada di ibukota kita, kota Jakarta yang dibangun pada tahun 1962. TVRI merupakan channel swasta pertama Indonesia pada tahun 1981.
Sesampainya di sana, kita harus menunggu kelompok 2 yang sedang melakukan wawancara dan reportase di dalam. Sambil menunggu, kami mewawancarai salah satu kru proses produksi TV di sana, yang bernama Pak Winarto. Pak Winarto ini sudah bekerja di TVRI selama 25 tahun. Beliau menjelaskan beberapa hal berikut: ( kami merangkum dalam beberapa point point :D )
Proses produksi TV
• Sistem produksi → pengiriman kaset/satelit.
• Program: (standar menggunakan 15 orang)
▪ Pengambilan suara menggunakan Itc lalu nanti di edit di mixer sound
▪ Pengambilan gambar menggunakan camera.
▪ Bila tempat tidak terlalu besar atau standart, bisa menggunakan hanya 3 camera saja. Kecuali jika tempat besar, dapat menggunakan lebih dari 3 camera agar semuanya dapat terekspos. Lalu nanti di gabung dan di edit dengan menggunakan mixer video/mixer output. Setelah digabung keduanya, baru dikirim ke master. Kalau mau dipancar, masuk ke pemancar, atau kalau mau di record di VTR (Video Tape Recorder)
▪ Ada modulator untuk mencampur dan menemukan frekuensi saluran, setelah di campur frekuensi tersebut di campur dan dibawa dengan frekuensi pembawa, setelah itu dicampur lagi, karena belum 100%, setelah itu di filter dan di campur agar lebih sempurnalagi setelah itu di apply di menara.
• Kalau pemancar harus ada penyangga/menara.
• Kalau satelit bisa langsung, tapi yang punya sekarang hanya telkom, karena harganya sangat mahal.
• Frekuensi harus berbeda-beda, karena kalau sama/beda hanyai 1 masih bisa bertabrakan, dan suara tidak jelas.
• Di TVRI Surabaya, memiliki 3 studio, studio 1, studio 2 (paling besar), studio 3. dinding - dinding di studio – studio tersbut, menggunakan dundung akostik sehingga suara yang dihasilkan tidak menggema.
• Ada 1 mobil keliling yang lengkap dengan alat – alat. Persis seperti studio yang ada di TVRI → Out Broad Casting Van (OBVan). Video bisa di record atau dipancarkan langsung, yang nanti dapat di terima oleh anten – anten rumah – rumah.
• Satelit → karena jaraknya jauh sinyal lemah, tetapi frekuensi tinggi sehinggga rendah gangguan. (menggunakan GH/Giga Hertz)
• Parabola → berbentuk lingkaran, yang ditengah atasnya terdapat lingkaran kecil (LNA → Low Noise Amplifier) yang kegunaannya untuk menerima gelombang yang dipancarkan, sehingga kita bisa melihat program – program yang ada di televisi. Sedangkan leingkaran yang besar, hanya berguna untuk memantulkan gelombang – gelombang agar dapat tepat ke lingkaran kecil tersebut.
• Memilih gambar yang baik → gambar yang dapat berbicara (gambar yang meskipun tidak ada suaranya, tetapi orang – orang bisa mengerti) apalagi bila di beri suara, bisa lebih bagus lagi.
• Hambatan atau kesulitan yang paling sulit dikerjakan → karena orang yang bekerja terlalu banyak, sehingga kekompakan/kerjasama sulit untuk dicapai.
Setelah melakukan beberapa tanya jawab dengan Pak Winarto, kami memasuki ruang kerja TVRI. Di sana, terdapat begitu banyak ruangan, seperti ruang rias untuk para MC dan pembawa berita, ruang latihan, ruang editing, dan juga banyak lagi. Di tempat ini, kami akan mewawancarai Ibu Joyce. Ibu Joyce menjelaskan garis besar tentang Reportase, dan juga pengambilan berita di tempat kejadian ( pelaporan berita ). Berikut hasilnya ( Kami merangkumnya dalam point – point ) Semoga bermanfaat :D
Proses pencarian berita:
◦ Hari ini isu apa yang sedang terjadi → lalu di cari. Seperti bencana banjir, dll. Lalu kita ke lokasi tempat tersebut, untuk mencari berita yang akan disiarkan di berita. Ditugaskan reporter (yang menyampaikan), para koresponden dan kontributor (untuk mencari berita).
◦ Kedua ada seseorang yang mengirim berita, dan ingin untuk beritanya dapat disiarakan (gratis tanpa biaya tapi harus dieseleksi terlebih dahulu). Ada yang mengundang untuk meliput berita mereka seperti rapat gubernur/walikota, Farewell Party) tetapi mereka harus membayar untuk produksi di TVRI, tetapi jika kejadian kasus tidak perlua bayar. Untuk durasi 1 menit setengah kira – kira Rp. 250.000 + honor kru dan transportasi. Untuk durasi 5 menit, biaya kira – kira Rp. 1.000.000 + honor kru dan transportasi.
Proses pelaporan berita:
◦ On the spot langsung di lapangan → pakai mobil Van. Reporter stand up (menyiarkan berita secara langsung) seperti gempa di Padang.
◦ Ada yang di rekam/taping (disiarkan pukul 17.00-18.00)
◦ Jika salah dalam membawa berita “maaf, maksud saya....”
• Tingkatan Reporter:
◦ hanya menulis
◦ hanya membaca
◦ ada yang mencari, ada yang bisa langsung menyampaikan. (dilihat suara dan penampilannya)
- Dahulu, reporter dicari dengan mengutamakan microphone voice (atau suaranya yang keras) tetapi sekarang lebih dilihat pada performance (atau penampilannya)
- Jika suatu saat ketinggalan berita, bisa pinjam ke swasta, tetapi dengan mencantumkan nama sumbernya.
Sekian dari post kami !! CIAO !!


