Kampung Gundih
Kampung Gundih adalah tempat tujuan kelompok kami yang pertama. Pertama kali, kami sangat bingung untuk mencari kampung Gundih ini karena jalan-jalan yang harus dilewati begitu sempit dan membingungkan. Untuk mencapai tujuan, kami sekelompok membutuhkan 45 menit dari sekolah. Sesampainya di tempat, kami sekelompok ( dan juga Ms. Endah ) semuanya terkaget- kaget, karena baru pertama kali mereka melihat kampung yang pintu masuknya sudah mirip dengan hutan :D Di dalam kampung, tanaman - tanaman hijau menghiasi setiap sudut kampung tersebut. Di sana, kami mendengar beberapa cerita tentang bagaimana Kampung Gundih dapat menjadi sebuah kampung yang sangat bersih dan juga kami melakukan sesi tanya jawab dengan para penduduk setempat. Berikut hasil dari wawancara kita : ( enjoy !! )

A. Civic
Seperti yang kita semua ketahui, kampug Gundih merupakan salah satu kampung bersih yang sudah berkali-kali memperoleh penghargaan. Kebersihan, kerapian dan kehijauan kampung ini murni merupakan inisiatif para warga. Selain masalah kebersihan, kerapian dan kehijauan kampung ini, mereka juga melakukan penyaringan air got dan juga proses daur ulang sampah. Tanpa bantuan dari pemerintah, mereka berhasil mengubah kampung mereka menjadi salah satu kampung unggulan. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, mereka merupakan kampung terkotor di daerah permukiman mereka. Kemandirian mereka dalam hal ini tentu patut kita contoh dan acungi jempol.
Dari penjelasan di atas, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa masyarakat di kampung tersebut merupakan salah satu masyarakat mandiri. Ketika suatu masyarakat disebut sebagai masyarakat mandiri, mereka pastilah akan melakukan budaya politik yang pastisipatif / aktif. Begitu pula dengan masyarakat kampung gundih. Mereka dapat dikatakan sebagai masyarak berbudaya politik aktif dikarenakan mereka sadar dan mau turut serta dalam membangun kampung mereka. Hal ini jelas menunjukan bahwa mereka sadar akan peranan mereka sebagai warga kampung Gundih dan juga sebagai warga negara Indonesia.
Warga kampung Gundih juga termasuk masyarakat madani. Karena mereka telah menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara serta telah melaksanakan kegiatannya ( kampung bersih) tanpa ada halangan dari pemerintah. Mereka juga dengan tulus, bebas dan tanpa paksaan mengajukan diri untuk mengikuti program kampung bersih. Hal ini membuktikan bahwa ciri-ciri masyarakat madani telah terpenuhi oleh warga.

B. Chemistry
Untuk menunjang program kampung bersih mereka, sampah-pun mereka manfaatkan. Mereka melakukan daur ulang dari sedotan, bungkus bekas sabun cuci piring, hingga bungkus makanan sisa. Untuk sedotan, daur ulang dilakukan dengan cara memotong sedotan pendek-pendek, lalu disulam sedemikian rupa hingga membetuk tikar. Kadangkala juga digunakan sebagai hiasan untuk tas yang mereka buat serta dibentuk seperti bunga dan dijadikan hiasan. Sedangkan untuk bungkus bekas sabun cuci piring dan bungkus makanan sisa, biasanya dijahit membentuk tikar serta tas dan juga tas untuk laptop.
Tidak hanya dapat memanfaatkan sampah secara maksimal, barang-barang daur ulang yang dihasilkan oleh kampung ini ternyata sudah diakui secara internasional. Barang-barang daur ulang mereka kini telah mendapat pelanggan tetap dari negeri Sakura, Jepang.
Dengan mendaur ulang sampah seperti yang dilakukan oleh warga kampung Gundih, kita dapat memperoleh banyak manfaat. Contohnya adalah membuka lapangan pekerjaan baru dan menyelamatkan lingkungan dan bumi kita. Dengan mengurangi sampah-sampah plastik, yang memakan waktu ribuan hingga jutaan tahun agar dapat terurai dalam tanah, kita dapat menyelamatkan bumi kita dari ancaman global warming (pemanasan global), selain itu, lingkungan sekitar kita juga akan menjadi lebih bersih dan rapi sehingga sedap dipandang dan segar. Kebersihan lingkungan membuat kita terjauh dari penyakit (cth: D.B dan malaria).
Istilah “Waste is Gold” mungkin merupakan slogan yang cocok untuk kampung yang satu ini. Mereka tidak hanya menghijaukan dan membersihkan lingkungan, namun mereka juga mendapat pekerjaan karenanya. Seringkali kita berpikir bahwa istilah “Waste is Gold” merupakan istilah yang konyol. Namun warga di kampung Gundih telah membuktikan pada kita bahwa hal tersebut adalah salah besar. Mereka telah membuktikan, dengan sampah yang tidak berharga, dapat muncul suatu produk dengan taraf International.

C. Biology
Selain menanam tanaman hias, masyarakat kampung Gundih juga menanam beberapa jenis tanaman Toga, yaitu belimbing wuluh, laos, jahe, kunyit, temulawak, serta kunir putih. Namun mereka cenderung menanam tanaman jahe karena lebih bermanfaat dan lebih mudah budidayanya. Cara budidaya yang digunakan-pun cukup sederhana. Mula-mula, tanam jahe pada tanah yang sudah diberi kapur. Campuran kapur pada tanah disinyalir dapat mencegah telur cacing untuk berkembang. Setelah beberapa hari, kuncup/tunas jahe sudah mulai bermunculan. Nah, pada kondisi seperti ini, jahe harus dipindahkan secara hati-hati kedalam pot. Setelah tumbuh di dalam pot, kita akan mendapatkan jahe dengan kualitas bagus karena dalam masa tumbuhnya ia tidak dimakan oleh cacing.
Ketika sampah menjadi emas di kampung ini, apalagi dengan tanaman Toga yang memang berkhasiat tinggi untuk kesehatan. Pengolahan tanaman Toga ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Sebut saja jahe. Di kampung ini, jahe diolah sehingga menjadi bubuk jahe instan. Dan karena pengolahannya secara tradisional, maka sari-sarinya pun masih murni tidak tercampur dengan bahan kimia.
Cara yang mereka gunakan:
1. Jahe diambil lalu dicuci terlebih dahulu
2. Kemudian dipotong tipis-tipis/diparut/diblender
3. Rebus jahe untuk diambil sarinya
4. Setelah mendidih, pisahkan ampas dengan air jahenya (saring)
5. Campurkan gula kedalam air jahe. Jumlah gula = jumlah jahe (misal: 1 kg jahe dicampur dengan 1 kg gula)
6. Panaskan hingga mengkristal lalu keringkan.
7. Langkah terakhir, haluskan gumpalan krtistal
8. Jahe instan siap dikemas untuk dijual ataupun untuk konsumsi sendiri.

D. Geography
Selain sampah dan tanaman Toga, kampung Gundih juga mengolah air kotor hingga menjadi air siap pakai. Proses pengolahannya sendiri terbagi menjadi dua. Proses tahap pertama bertujuan untuk menyarinh sampah padat, sedangkan proses tahap kedua bertujuan untuk menjernihkan air.
• Proses tahap pertama dilakukan dengan mengalirkan air got memasuki tandon khusus yang telah disediakan warga untuk proses penyaringan. Tandon tersebut dibagi menjadi dua, bagian pertama berfungsi untuk menyaring sampah terapung (cth: sampah plastik), sehingga memiliki saluran pengeluaran dari bagian bawah. Air yang telah memasuki bagian pertama dari tandon mengalir melalui saluran pengeluaran menuju bagian kedua tandon yang berfungsi untuk menyaring air dari sampah yang mengendap (cth: lumpur), sehingga memiliki saluran pengeluaran dari atas.
• Proses tahap kedua dilakukan dengan semacam alat saring air khusus yang berisi batu siloid dan batu kayu. Pada tahap kedua-pun, alat yang digunakan terbagi menjadi dua. Air yang telah menyelesaikan proses tahap pertama masuk kedalam alat saring yang berisi batu siloid. Batu siloid digunakan karena dapat menjernihkan air. Dari proses batu siloid, air akan mengalir masuk kedalam alat saring berisi batu kayu. Batu kayu ini berfungsi juga berfungsi untuk menjernihkan air, tapi hal utama yang dimanfaatkan dari batu kayu ini adalah fungsinya sebagai penghilang bau tak sedap air. Berhubung air tersebut berasal dari air got/pembuangan, maka batu kayu ini sangatlah bermanfaat.
Namun, meskipun air yang keluar setelah penyaringan sudah jernih, tetap saja penggunaan air tersebut sangatlah terbatas. Warga kampung biasanya hanya menggunakannya untuk menyirami tanaman dan hanya dengan melakukannya, mereka dapat menghemat hingga Rp.1.200.000,-. Mereka juga menyadari bahwa dengan melakukan hal tersebut, mereka juga dapat membantu pemerintah dalam penghematan air bersih dan juga membantu dunia untuk mencegah air laut naik ke daratan (global warming). Secara keseluruhan, hambatan dan kekurangan yang didapat relative kecil. Hal itu meliputi: biaya pembangunan tandon khusus dan juga alat penyaring, waktu dan tenaga extra yang harus dilakukan warga guna mengontrol kualitas air (membersihkan tendon dan mengganti batu), dan juga keterbatasan air yang dapat dihasilkan serta kurang terjaminnya kualitas air (sehinga tidak dapat digunakan untuk mencuci, dll).
Solusi yang ada dari pemerintah sendiri, soal permasalahan air bersih, masih minim. Pemerintah hanya menyediakan air bersih dari PDAM tanpa ada solusi lain. Itupun tidak menjangkau seluruh daerah Indonesia. Di beberapa daerah, air bersih sangat sulit didapat. Sedangkan di kota-kota besar, air bersih cenderung disia-siakan. Padahal, pasokan air bersih dunia semakin lama semakin menipis dikarenakan polusi yang berlebihan. Sedangkan solusi dari warga kampung tersebut adalah menciptakan alat penyaring air seperti yang telah kita bahas. Adapun solusi dari kelompok kami adalah pemerintah harus menyadarkan warga/masyarakat bahwa air bersih itu sangat dibutuhkan dan tidak bnoleh disia-siakan. Pemerintah jug aharus menyosialisasikan program penyaringan air seperti yang telah dilakukan oleh warga kampung Gundih. Pemerintah juga harus mengontrol limbah buangan, sehingga kualitas air di Indonesia lebih terjaga (tidak banyak sampah di kali, dsb). Mulai sekarang kami juga akan berusaha menghemat air bersih yang kami gunakan. Contohnya adalah bila dulu seringkali kami begitu saja membuang botol air kemasan, padahal masih terdapat air minum di dalamnya, maka sekarang kami tidak akan melakukannya lagi melainkan sebalikya, kami akan menghabiskannya terlebih dahulu. Kami juga akan membuang sampah sesuai golongan (botol air pada tong sampah khusu botol, dsb).
Kesimpulan yang kami dapat setelah mengunjungi kampung Gundih adalah bahwa bila kita memiliki tekad, kita dapat melakukan apapun. Kampung Gundih merupakan salah satu contoh nyata yang kita dapati. Pada tahun 2007 kebawah, kampung ini merupakan kampung terjorok yang ada di daerah sekitar. Sekarang, kampung ini menjadi salah satu kampung unggulan yang telah memenangkan banyak penghargaan “Green and Clean”, dsb. Kita juga belajar bahwa ternyata sampah itu berharga. Dari seonggok sampah, kita dapat membuat sesuatu yang dihargai secara International. Gotong royong dan kerja sama serta pengertian satu sama lain juga berperan penting dalam menyukseskan segala hal. Bila kita tidak mau bekerja sama, maka tujuan apapun yang kita mau tidak akan pernah tercapai.

Sekian dari Post kami !! CIAO !!

A. Civic
Seperti yang kita semua ketahui, kampug Gundih merupakan salah satu kampung bersih yang sudah berkali-kali memperoleh penghargaan. Kebersihan, kerapian dan kehijauan kampung ini murni merupakan inisiatif para warga. Selain masalah kebersihan, kerapian dan kehijauan kampung ini, mereka juga melakukan penyaringan air got dan juga proses daur ulang sampah. Tanpa bantuan dari pemerintah, mereka berhasil mengubah kampung mereka menjadi salah satu kampung unggulan. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, mereka merupakan kampung terkotor di daerah permukiman mereka. Kemandirian mereka dalam hal ini tentu patut kita contoh dan acungi jempol.
Dari penjelasan di atas, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa masyarakat di kampung tersebut merupakan salah satu masyarakat mandiri. Ketika suatu masyarakat disebut sebagai masyarakat mandiri, mereka pastilah akan melakukan budaya politik yang pastisipatif / aktif. Begitu pula dengan masyarakat kampung gundih. Mereka dapat dikatakan sebagai masyarak berbudaya politik aktif dikarenakan mereka sadar dan mau turut serta dalam membangun kampung mereka. Hal ini jelas menunjukan bahwa mereka sadar akan peranan mereka sebagai warga kampung Gundih dan juga sebagai warga negara Indonesia.
Warga kampung Gundih juga termasuk masyarakat madani. Karena mereka telah menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara serta telah melaksanakan kegiatannya ( kampung bersih) tanpa ada halangan dari pemerintah. Mereka juga dengan tulus, bebas dan tanpa paksaan mengajukan diri untuk mengikuti program kampung bersih. Hal ini membuktikan bahwa ciri-ciri masyarakat madani telah terpenuhi oleh warga.
B. Chemistry
Untuk menunjang program kampung bersih mereka, sampah-pun mereka manfaatkan. Mereka melakukan daur ulang dari sedotan, bungkus bekas sabun cuci piring, hingga bungkus makanan sisa. Untuk sedotan, daur ulang dilakukan dengan cara memotong sedotan pendek-pendek, lalu disulam sedemikian rupa hingga membetuk tikar. Kadangkala juga digunakan sebagai hiasan untuk tas yang mereka buat serta dibentuk seperti bunga dan dijadikan hiasan. Sedangkan untuk bungkus bekas sabun cuci piring dan bungkus makanan sisa, biasanya dijahit membentuk tikar serta tas dan juga tas untuk laptop.
Tidak hanya dapat memanfaatkan sampah secara maksimal, barang-barang daur ulang yang dihasilkan oleh kampung ini ternyata sudah diakui secara internasional. Barang-barang daur ulang mereka kini telah mendapat pelanggan tetap dari negeri Sakura, Jepang.
Dengan mendaur ulang sampah seperti yang dilakukan oleh warga kampung Gundih, kita dapat memperoleh banyak manfaat. Contohnya adalah membuka lapangan pekerjaan baru dan menyelamatkan lingkungan dan bumi kita. Dengan mengurangi sampah-sampah plastik, yang memakan waktu ribuan hingga jutaan tahun agar dapat terurai dalam tanah, kita dapat menyelamatkan bumi kita dari ancaman global warming (pemanasan global), selain itu, lingkungan sekitar kita juga akan menjadi lebih bersih dan rapi sehingga sedap dipandang dan segar. Kebersihan lingkungan membuat kita terjauh dari penyakit (cth: D.B dan malaria).
Istilah “Waste is Gold” mungkin merupakan slogan yang cocok untuk kampung yang satu ini. Mereka tidak hanya menghijaukan dan membersihkan lingkungan, namun mereka juga mendapat pekerjaan karenanya. Seringkali kita berpikir bahwa istilah “Waste is Gold” merupakan istilah yang konyol. Namun warga di kampung Gundih telah membuktikan pada kita bahwa hal tersebut adalah salah besar. Mereka telah membuktikan, dengan sampah yang tidak berharga, dapat muncul suatu produk dengan taraf International.
C. Biology
Selain menanam tanaman hias, masyarakat kampung Gundih juga menanam beberapa jenis tanaman Toga, yaitu belimbing wuluh, laos, jahe, kunyit, temulawak, serta kunir putih. Namun mereka cenderung menanam tanaman jahe karena lebih bermanfaat dan lebih mudah budidayanya. Cara budidaya yang digunakan-pun cukup sederhana. Mula-mula, tanam jahe pada tanah yang sudah diberi kapur. Campuran kapur pada tanah disinyalir dapat mencegah telur cacing untuk berkembang. Setelah beberapa hari, kuncup/tunas jahe sudah mulai bermunculan. Nah, pada kondisi seperti ini, jahe harus dipindahkan secara hati-hati kedalam pot. Setelah tumbuh di dalam pot, kita akan mendapatkan jahe dengan kualitas bagus karena dalam masa tumbuhnya ia tidak dimakan oleh cacing.
Ketika sampah menjadi emas di kampung ini, apalagi dengan tanaman Toga yang memang berkhasiat tinggi untuk kesehatan. Pengolahan tanaman Toga ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Sebut saja jahe. Di kampung ini, jahe diolah sehingga menjadi bubuk jahe instan. Dan karena pengolahannya secara tradisional, maka sari-sarinya pun masih murni tidak tercampur dengan bahan kimia.
Cara yang mereka gunakan:
1. Jahe diambil lalu dicuci terlebih dahulu
2. Kemudian dipotong tipis-tipis/diparut/diblender
3. Rebus jahe untuk diambil sarinya
4. Setelah mendidih, pisahkan ampas dengan air jahenya (saring)
5. Campurkan gula kedalam air jahe. Jumlah gula = jumlah jahe (misal: 1 kg jahe dicampur dengan 1 kg gula)
6. Panaskan hingga mengkristal lalu keringkan.
7. Langkah terakhir, haluskan gumpalan krtistal
8. Jahe instan siap dikemas untuk dijual ataupun untuk konsumsi sendiri.
D. Geography
Selain sampah dan tanaman Toga, kampung Gundih juga mengolah air kotor hingga menjadi air siap pakai. Proses pengolahannya sendiri terbagi menjadi dua. Proses tahap pertama bertujuan untuk menyarinh sampah padat, sedangkan proses tahap kedua bertujuan untuk menjernihkan air.
• Proses tahap pertama dilakukan dengan mengalirkan air got memasuki tandon khusus yang telah disediakan warga untuk proses penyaringan. Tandon tersebut dibagi menjadi dua, bagian pertama berfungsi untuk menyaring sampah terapung (cth: sampah plastik), sehingga memiliki saluran pengeluaran dari bagian bawah. Air yang telah memasuki bagian pertama dari tandon mengalir melalui saluran pengeluaran menuju bagian kedua tandon yang berfungsi untuk menyaring air dari sampah yang mengendap (cth: lumpur), sehingga memiliki saluran pengeluaran dari atas.
• Proses tahap kedua dilakukan dengan semacam alat saring air khusus yang berisi batu siloid dan batu kayu. Pada tahap kedua-pun, alat yang digunakan terbagi menjadi dua. Air yang telah menyelesaikan proses tahap pertama masuk kedalam alat saring yang berisi batu siloid. Batu siloid digunakan karena dapat menjernihkan air. Dari proses batu siloid, air akan mengalir masuk kedalam alat saring berisi batu kayu. Batu kayu ini berfungsi juga berfungsi untuk menjernihkan air, tapi hal utama yang dimanfaatkan dari batu kayu ini adalah fungsinya sebagai penghilang bau tak sedap air. Berhubung air tersebut berasal dari air got/pembuangan, maka batu kayu ini sangatlah bermanfaat.
Namun, meskipun air yang keluar setelah penyaringan sudah jernih, tetap saja penggunaan air tersebut sangatlah terbatas. Warga kampung biasanya hanya menggunakannya untuk menyirami tanaman dan hanya dengan melakukannya, mereka dapat menghemat hingga Rp.1.200.000,-. Mereka juga menyadari bahwa dengan melakukan hal tersebut, mereka juga dapat membantu pemerintah dalam penghematan air bersih dan juga membantu dunia untuk mencegah air laut naik ke daratan (global warming). Secara keseluruhan, hambatan dan kekurangan yang didapat relative kecil. Hal itu meliputi: biaya pembangunan tandon khusus dan juga alat penyaring, waktu dan tenaga extra yang harus dilakukan warga guna mengontrol kualitas air (membersihkan tendon dan mengganti batu), dan juga keterbatasan air yang dapat dihasilkan serta kurang terjaminnya kualitas air (sehinga tidak dapat digunakan untuk mencuci, dll).
Solusi yang ada dari pemerintah sendiri, soal permasalahan air bersih, masih minim. Pemerintah hanya menyediakan air bersih dari PDAM tanpa ada solusi lain. Itupun tidak menjangkau seluruh daerah Indonesia. Di beberapa daerah, air bersih sangat sulit didapat. Sedangkan di kota-kota besar, air bersih cenderung disia-siakan. Padahal, pasokan air bersih dunia semakin lama semakin menipis dikarenakan polusi yang berlebihan. Sedangkan solusi dari warga kampung tersebut adalah menciptakan alat penyaring air seperti yang telah kita bahas. Adapun solusi dari kelompok kami adalah pemerintah harus menyadarkan warga/masyarakat bahwa air bersih itu sangat dibutuhkan dan tidak bnoleh disia-siakan. Pemerintah jug aharus menyosialisasikan program penyaringan air seperti yang telah dilakukan oleh warga kampung Gundih. Pemerintah juga harus mengontrol limbah buangan, sehingga kualitas air di Indonesia lebih terjaga (tidak banyak sampah di kali, dsb). Mulai sekarang kami juga akan berusaha menghemat air bersih yang kami gunakan. Contohnya adalah bila dulu seringkali kami begitu saja membuang botol air kemasan, padahal masih terdapat air minum di dalamnya, maka sekarang kami tidak akan melakukannya lagi melainkan sebalikya, kami akan menghabiskannya terlebih dahulu. Kami juga akan membuang sampah sesuai golongan (botol air pada tong sampah khusu botol, dsb).
Kesimpulan yang kami dapat setelah mengunjungi kampung Gundih adalah bahwa bila kita memiliki tekad, kita dapat melakukan apapun. Kampung Gundih merupakan salah satu contoh nyata yang kita dapati. Pada tahun 2007 kebawah, kampung ini merupakan kampung terjorok yang ada di daerah sekitar. Sekarang, kampung ini menjadi salah satu kampung unggulan yang telah memenangkan banyak penghargaan “Green and Clean”, dsb. Kita juga belajar bahwa ternyata sampah itu berharga. Dari seonggok sampah, kita dapat membuat sesuatu yang dihargai secara International. Gotong royong dan kerja sama serta pengertian satu sama lain juga berperan penting dalam menyukseskan segala hal. Bila kita tidak mau bekerja sama, maka tujuan apapun yang kita mau tidak akan pernah tercapai.
Sekian dari Post kami !! CIAO !!


